Punya prinsip????


Sebuah kenyataan sangat menyedihan ketika anda mendapati sekelompok orang yang memiliki sebuah prinsip yang luar biasa kuatnya namun di lain sisi prinsip itu justru mengekang dan membatasi orang orang yang ada di sekitarnya. Dan mungkin termasuk anda sendiri jika anda berada di sana.

Kemudian hal inilah yang sangat mendorong terciptanya tulisan yang sederhana ini.

Bagaimana sebuah prinsip itu seharusnya dipelihara dan digunakan!
Untuk memberikan penjelasan ini, terlebih dahulu kita harus memahami apakah prinsip itu sendiri? Prinsip, pada hakekatnya adalah sebuah hasil pemikiran yang mendasar dan berdiri sendiri, mengambil sebuah ruang tersendiri didalam suatu kehidupan manusia yang mempercayainya, dan mempengaruhi semua segi aktivitas kehidupan manusia itu. Ia adalah sikap. Ia memiliki kekuatan, dan ini membuat orang orang yang memilikinya juga menjadi terlihat kuat. Setidaknya pendapat ini adalah menurut point of view dari saya pribadi. Saya tak pernah membaca arti istilah “prinsip itu” dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau dari buku buku populer nan best seller karya tokoh-tokoh terkemuka atau para filsuf sejati. Tapi ini setidaknya ini berlaku bagi kita.

Namun dari mana sebenaranya prinsip itu datang? Banyak hal yang menandai seseorang itu memiliki sebuah prinsip dan memegang teguh prinsipnya tersebut. Namun, suatu pertanyaan yang mendasar adalah sebenarnya dari mana ia mendapatkan prinsip prinsip hidup itu?, mengapa prinsip itu begitu mempengaruhi hidupnya?, mengapa ia mau memilih sebuah prinsip itu dan mangabaikan prinsip yang lainnya?

Prinsip pada hakekatnya sangat berkaitan erat dengan pribadi manusia itu, keadaan psikologisnya, dan lebih jauh lagi dari lingkungannya. mari kita bahas satu persatu.

Pribadi manusia atau psikologisnya, memang amatlah berkaitan erat dengan prinsip hidupnya. Namun ada sebuah ketergantungan persepsi bahwa, antara prinsip dan pribadi manakah hal yang lebih dulu ada? Mana hal yang lebih mendominasi? Dan mana hal yang menjadi akibat, jika yang lain adalah sebab yang nyata? Ini mungkin akan menjadi pertanyan tak terjawab, namun tenang saja ini tidak terlalu penting. Sehingga jika kita membahasnya lain kali setelah pelajaran lebih dalam diambil mungkin akan lebih baik.

Yang menjadi hal menarik dan perlu digaris bawahi adalah bahwa seseorang menggunakan prinsip itu untuk menunjukan kepada dunia dan dirinya sendiri bahwa sikapnya adalah sebagaimana sikapnya sekarang. Dengan kata lain, ia bertindak sesuai dengan pemikiran dan tentu prinsipnya itu.

Hal selanjutnya adalah lingkungan manusia itu sendiri. Inilah hal yang sangat mempengaruhi prinsip seseorang. Seorang pakar kesuksesan mengatakan secara pribadi kepada saya dan beberapa rekan saya “ seorang manusia pada akhirnya akan menjadi apa, tergantung kepada 3 hal yaitu, pertama dengan siapa ia paling banyak bergaul, kedua adalah buku apa yang paling banyak ia baca, dan ketiga adalah pendidikan apa yang ia dapat selama hidupnya. Semuanya menunjukkan bahwa, lingkungan tersebut memang sangat mempengaruhi prinsip itu dan akhirnya menunjukkan kualitas inti dari manusia itu sendiri.

Jadi secara gamblang dapat dikatakan bahwa prinsip itu datang dari lingkungan sejak ia kecil, mungkin akan apa yang diajarkan orang tuanya atau mungkin pendidikan lain yang ia dapat, dan lebih dalam lagi prinsip itu datang dari apa yang ia percayai. Agama misalnya. Seorang yang beragama sudah pasti menjadikan ajaran ajaran agama yang diyakininya itu sebagai prinsip hidup yang luar biasa kuatnya. Dari sana prinsip itu sedikit demi sedikit terbentuk dan akhirnya menjadi prinsip hidup yang mempengaruhi sikap dan pemikiran anak manusia tersebut. Ini mengandung proses psikologis yang yang nyata.

Sehingga bisa dikatakan bahwa prinsip itu datang dari lingkungan. Satu lagi pertanyaan terjawab.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana wujud dari prinsip itu?, bagaimana mengidentifikasi prinsip itu?

Banyak hal yang membuat seseorang memilih sebuah prinsip tertentu dan mengabaikan prinsip yang lain. Salah satunya adalah tujuan apa yang akan didapat dari prinsip itu jika ia dijalankan. Ini adalah satu langkah lebih jauh tentang prinsip. Namun secara pribadi pula saya tak dapat menunjukkan bagaimana prinsip dan tujuan itu berproses. Sama halnya dengan prinsip dan pribadi atau keadaan psikologis seseorang itu. Tak dapat dijelaskan mana yang lebih dulu ada antara prinsip dan tujuan. Apakah tujuan yang membuat prinsip itu ada ataukah sebaliknya tujuan itu muncul ketika prinsip itu dipillih.

Sebuah contoh sederhana dari sini adalah seseorang yang memiliki tujuan atau istilah saya adalah impian, ia akan melakukan apa saja yang menurut pribadi dan prinsipnya benar demi tercapainya impian tersebut.

Namun hal yang paling menarik dan terintegritasi dari sini adalah setiap orang yang memiliki impian yang nyata pasti pula memiliki prinsip inti yang akan berimplikasi pada setiap segi kehidupannya. Ini adalah hukum alam.

Namun prinsip tidak selamanya terintegrasi pada tujuan yang akan dicapai, bisa saja pada alasan dipilihnya prinsip itu, atau mungkin karena rasa yang diperoleh ketika pertama kali seseorang menyadari secara utuh prinsip tersebut. Namun apapun bentuknya prinsip itu memiliki tujuan walaupun tak selamanya terintegrasi pada Impian.

Pada akhirnya pertanyaannya adalah bagaimana syarat yang mutlak harus ada dalam suatu prinsip agar prinsip itu baik, terbaik, dan benar paling tidak buat pribadi orang yang akan menjalankannya?

Nah, sebelum menjawab pertanyaan ini, ada suatu hal penting yang harus kita pelajari bahwa dari bunyi pertanyaan diatas saja kita harus mengambil suatu pelajaran yang bersifat fundamental. Coba anda kembali membaca baik-baik pertanyaannya. Didapat bahwa pertanyaan tersebut mensyaratkan “bagaimana prinsip itu menjadi baik” bukan “prinsip apa yang terbaik”.

Jadi bukan materi prinsipnya akan tetapi bagaimana ia menjadi baik. Pelajaran tersiratnya yang wajib ditangkap adalah semua prinsip itu ternyata bisa menjadi baik, apapun itu! Selama ia memenuhi syarat yang selanjutnya akan dibahas.

Jadi apa syaratnya?

Dua syarat mutlak adalah konsistensi dan tak mengganggu prinsip orang lain.

Yang pertama adalah konsistensi. Ini berkaitan dengan keberhasilan yang ingin dicapai dari prinsip itu. Dan membuat prinsip itu menjadi baik dan terbaik. Sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa semua prinsip hidup itu memiliki tujuan, walaupun tak selamanya terintegrasi pada tujuan itu.

Konsistensi dari manusianyalah yang akan membawanya pada keberhasilan itu. Konsistensi bisa ditranslasikan kedalam banyak arti atau bahasa atau istilah. Seseorang bisa saja mengatakan tak boleh putus asa, sementara yang lain mungkin akan mengatakan lakukan dengan sepenuh hati, atau barangkali jika dipribahasakan akan terbentur pada kalimat “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Sebuah pribahasa yang sangat familiar ditelinga kita.

Atau kutipan favorit saya dalam kisah Edwin C. Barnes yang terobsesi berat menjadi mitra bisnis bapak penemu terbesar sepanjang sejarah yakni Thomas A. Edison dari Electrik Company, yang diceritakan dalam buku Think and Grow Rich karya Napoleon Hill, yang mengatakan bahwa “DAN TEKAD YANG BULAT UNTUK TERUS MEMEGANG TEGUH KEINGINAN ITU SAMPAI DIA BERHASIL MEWUJUDKANNYA” juga merupakan bahasa luar biasa dari konsistensi.

Namun pendapat saya pribadi, konsistensi terletak pada tiga etika kerja yang sangat handal (setidaknya menurut saya) yakni kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja cerdas. Ketiganya harus memiliki porsi persentase masing-masing. Saya pribadi memberikan porsi sebanyak 20% kerja keras, 30% kerja ikhlas dan 50% kerja cerdas. Bagi saya inilah konsistensi. Ini adalah pendapat saya pribadi, jadi tak perlu dibahas lebih jauh lagi.

Konsistensi memberikan jalan menuju keberhasilan itu. Hal yang ingin dicapai dari esensi prinsip hidup yang dijalankan tersebut. Inilah prinsip kesuksesan yang nyata. Namun disini saya tak ingin membahas lebih jauh terhadap gambaran kesuksesan itu. Akan tetapi disini adalah tujuan yang ingin dicapai dari prinsip yang dipegang teguh tersebut.

Sekali lagi saya katakan, satu hal yang harus saya tekankan sebelum lebih jauh melangkah adalah saya tak pernah membahas kesuksesan itu seperti apa disini. Sebab menurut saya sukses itu memiliki definisi yang berbeda dari orang yang berbeda. Saya juga tidak mengatakan bahwa suatu prinsip itu benar dan membawa kepada suatu keadaan kesuksesan tertentu. Akan tetapi yang saya katakan adalah setiap prinsip itu memiliki tujuan akhir yang ingin dicapai dan tujuan itu akan dicapai dengan konsistensi terhadapnya. Tujuan yang saya maksud pun tidak ada kaitannya dengan suatu jenis keadaan kesuksesan tertentu.

Nah, hal yang merupakan syarat kedua yang membuat kesuksesan itu benar adalah tak mengganggu prinsip orang lain. Ini adalah hal yang sangat simple namun akan sangat sulit dipraktekkan. Kadangkala kita memaksakan apa yang menurut kita benar sehingga tidak menghiraukan apa yang menurut orang lain benar. Sebenarnya masalahnya bukan terletak pada apakah pendapat anda benar atau salah, akan tetapi bagaimana anda bersikap terhadap hal yang menurut anda benar. Dengan kata lain bagaimana anda menghargai pendapat orang lain.

Walaupun bagaimana benarnya pendapat anda belum tentu itu benar bagi orang lain. Dan walaupun itu benar bagi orang lain pula belum tentu orang lain mau didikte oleh kebenaran versi anda. Dan belum tentu orang lain ingin melakukan apa yang menurut anda dan dia benar.

Hal ini dicontohkan secara sangat bijaksana oleh suatu agama, islam misalnya, semua orang tahu bahwa islam adalah agama yang paling benar dan kebenaran. Tapi walaupun demikian islam tidak pernah memaksakan seseorang untuk memeluknya, walaupun jika seharusnya demikian. Tetapi tidak!

Dalam kehidupan ini, adalah hal yang sangat fundamental bahwa seseorang tidak memiliki wewenang untuk membatasi kebebasan orang lain selama orang itu tidak berada dalam suatu tatanan yang mengikat. Artinya selama ia belum termasuk dalam suatu ikatan.

Anda memiliki prinsip dan orang lain pun demikian. Adalah hal yang sangat mustahil prinsip anda sama dengan semua orang. Walaupun prinsip anda sama dengan satu atau beberapa orang belum tentu juga orang lain itu mau mempraktekkannya sama dengan apa yang anda praktekan.

Inilah menurut saya dua hal yang wajib ada bagi seseorang yang ingin memegang teguh sebuah prinsip hidup yang baik dan benar. Sekali lagi, bukan terletak pada prinsip macam apa yang paling baik dan benar, akan tetapi bagaimana membuat prinsip itu berlaku baik, terbaik, dan benar.

6 comments:

Prinsip itu penting, tapi kadang prinsip bisa berubah karena keadaan.

untuk itu,,kita harus konsisten....

Prinsip : "sebuah dilema antara keteguhan dan fleksibilitas...."

saya rasa konsep fleksibilitas itu relatif om..but thanks udah koment..

tulisannya gue banget....ya memang kadang kita ingin prinsip kita bisa diterima orang lain, nice posting

@deri: thanks der.....semngat ych..

Poskan Komentar

Kritikan anda 10 kali lipat lebih berharga dari pujian anda. Jangan ragu mengkritik di sini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More